Senin, 22 Oktober 2012

Untitled


Kenangan Kakek

Kakek adalah orang yang kurang dekat denganku, entah kenapa alasannya, tapi aku memang kurang dekat dengan Kakekku. Menurutku Kakek adalah orang yang sangat baik dan dermawan, dia sangat baik kepada cucu-cucunya, apa pun yang cucu nya minta pasti dia belikan, itu lah alasan mengapa aku sebut Kakek adalah orang yang sangat baik. Tapi sayangnya aku tidak sempat menikmati semua kebaikan Kakekku.
Pada saat tanggal 01 Januari 2010 tepatnya saat tahun baru, pada pagi hari aku di bangunkan oleh Bibiku. Saat di bangunkan oleh Bibiku, Bibiku langsung berkata “Aup cepet bangun, Kakek meninggal”. Begitu mendengar kata-kata Bibiku itu aku langsung terkejut, tanpa sempat mengatakan sepatah kata apa pun, aku langsung membanringkan kembali badanku di tempat tidur. Aku merasa bahwa semua yang di katakan Bibiku itu hanya lah mimpi, tapi nyatanya tidak, semua yang Bibiku katakan itu nyata. Setelah beberapa menit aku membaringkan badanku, akhirnya aku pun bisa menerima kenyataan bahwa Kakek memang meninggal. Setelah terbangun aku pun mulai mandi dan sarapan untuk persiapan menuju rumah saudaraku untuk melaksanakan pemakaman.
Awalnya aku merasa biasa saja karena mungkin aku masih kecil aku pun tidak menangis saat aku tau Kakekku meninggal, tapi begitu aku mulai pergi bersama Ibuku aku pun mulai menangis, rasanya sedih sekali karena telah kehilangan satu-satunya Kakek yang aku kenal. Air mataku pun mulai mengalir deras di perjalanan menuju rumah saudaraku, dan Ibuku pun mencoba menenangkanku.
Setibanya di rumah saudaraku, tangisan semua saudaraku mulai pecah, mungkin mereka juga tidak bisa menerima kenyataan pahit ini. Orang yang paling histeris adalah Nenek, dia orang yang paling sedih di antara kami semua, itu wajar karena Nenek adalah orang yang paling sayang kepada Kakek.
Setelah semua keluarga kumpul kami pun memutuskan untuk segera melakukan pemakaman. Pemakaman di lakukan di Tasik kampong halaman Kakekku. Di saat perjalanan ke sana hati kamu sudah mulai tenang, tetapi begitu sampai di tempat tujuan tangisan kami pun langsung pecah kembali. Kami masih mengganggap semua ini tidak terjadi, kami berharap ini semua hanyalah mimpi dan kami belum bangun dari mimpi itu, tapi kenyataannya……ini semua kenyataan.
Proses pemakaman Kakek berjalan dengan lancer dan hikmat. Setelah pemakaman selesai di laksanakan kami pun segera bersiap-siap untuk pulang. Setelah sampai di rumah, kami semua pun merenung, dari semua orang yang ada hanya aku lah dan saudara-saudaraku yang masih kecil yang tidak merenung.
Setelah beberapa hari Kakek meninggal, kami pun mulai bisa melepasnya dari dunia namun kami tidak pernah melepasnya dari hati kami. Setelah selang beberapa minggu Kakek meninggal, Bibiku melahirkan seorang bayi perempuan, kami semua mengucapkan “Selamat dating pada keluarga kami” kepada bayi itu. Melihat kelahiran bayi ini lahir, aku pun jadi teringat kata-kata Kakek di saat Bibiku hendak mengambil buah mangga dari pohon di rumah Kakek, sebelum hendak mengambil mangga Bibi pun bertanya seperti kepada Kakek “Kek ini gapapa di ambil?” lalu Kakek pun menjawab dengan santai “Iya gapapa ambil aja, sesuatu yang di ambil itu pasti akan datang lagi yang baru”. Sama seperti keadaan keluarga kami waktu itu, Kakek di ibaratkan sebagai sebuah buah mangga yang telah di cabut dan anak yang baru lahir dalam keluargaku bisa di ibaratkan sebagai mangga yang baru tumbuh/sesuatu yang baru.
Kini…setelah aku besar, aku mulai mengerti arti kehilangan seseorang. Aku selalu merenung dan kadang menyesal, kenapa aku menyia-nyiakan Kakek di masa hidupnya? Di saat Kakek masih hidup aku malah cuek kepadanya, sedangkan sekarang saat Kakek sudah tidak ada aku malah menginginkan dia untuk kembali…tapi itu tidak mungkin. Penyesalan itu memang selalu datang belakangan.
Dan mungkin dari cerita ini aku bisa menyimpulkan dan mengambil hikmahnya. Kita harus lebih bisa memanfaatkan orang yang ada di hidup kita, kita tidak boleh menyia-nyiakan orang itu, siapa  pun dia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar