Kenangan Kakek
Kakek adalah orang yang kurang
dekat denganku, entah kenapa alasannya, tapi aku memang kurang dekat dengan
Kakekku. Menurutku Kakek adalah orang yang sangat baik dan dermawan, dia sangat
baik kepada cucu-cucunya, apa pun yang cucu nya minta pasti dia belikan, itu
lah alasan mengapa aku sebut Kakek adalah orang yang sangat baik. Tapi
sayangnya aku tidak sempat menikmati semua kebaikan Kakekku.
Pada saat tanggal 01 Januari 2010
tepatnya saat tahun baru, pada pagi hari aku di bangunkan oleh Bibiku. Saat di
bangunkan oleh Bibiku, Bibiku langsung berkata “Aup cepet bangun, Kakek
meninggal”. Begitu mendengar kata-kata Bibiku itu aku langsung terkejut, tanpa
sempat mengatakan sepatah kata apa pun, aku langsung membanringkan kembali
badanku di tempat tidur. Aku merasa bahwa semua yang di katakan Bibiku itu
hanya lah mimpi, tapi nyatanya tidak, semua yang Bibiku katakan itu nyata.
Setelah beberapa menit aku membaringkan badanku, akhirnya aku pun bisa menerima
kenyataan bahwa Kakek memang meninggal. Setelah terbangun aku pun mulai mandi
dan sarapan untuk persiapan menuju rumah saudaraku untuk melaksanakan
pemakaman.
Awalnya aku merasa biasa saja
karena mungkin aku masih kecil aku pun tidak menangis saat aku tau Kakekku
meninggal, tapi begitu aku mulai pergi bersama Ibuku aku pun mulai menangis,
rasanya sedih sekali karena telah kehilangan satu-satunya Kakek yang aku kenal.
Air mataku pun mulai mengalir deras di perjalanan menuju rumah saudaraku, dan
Ibuku pun mencoba menenangkanku.
Setibanya di rumah saudaraku,
tangisan semua saudaraku mulai pecah, mungkin mereka juga tidak bisa menerima
kenyataan pahit ini. Orang yang paling histeris adalah Nenek, dia orang yang
paling sedih di antara kami semua, itu wajar karena Nenek adalah orang yang
paling sayang kepada Kakek.
Setelah semua keluarga kumpul
kami pun memutuskan untuk segera melakukan pemakaman. Pemakaman di lakukan di
Tasik kampong halaman Kakekku. Di saat perjalanan ke sana hati kamu sudah mulai
tenang, tetapi begitu sampai di tempat tujuan tangisan kami pun langsung pecah
kembali. Kami masih mengganggap semua ini tidak terjadi, kami berharap ini
semua hanyalah mimpi dan kami belum bangun dari mimpi itu, tapi
kenyataannya……ini semua kenyataan.
Proses pemakaman Kakek berjalan
dengan lancer dan hikmat. Setelah pemakaman selesai di laksanakan kami pun
segera bersiap-siap untuk pulang. Setelah sampai di rumah, kami semua pun
merenung, dari semua orang yang ada hanya aku lah dan saudara-saudaraku yang
masih kecil yang tidak merenung.
Setelah beberapa hari Kakek
meninggal, kami pun mulai bisa melepasnya dari dunia namun kami tidak pernah
melepasnya dari hati kami. Setelah selang beberapa minggu Kakek meninggal,
Bibiku melahirkan seorang bayi perempuan, kami semua mengucapkan “Selamat
dating pada keluarga kami” kepada bayi itu. Melihat kelahiran bayi ini lahir,
aku pun jadi teringat kata-kata Kakek di saat Bibiku hendak mengambil buah
mangga dari pohon di rumah Kakek, sebelum hendak mengambil mangga Bibi pun
bertanya seperti kepada Kakek “Kek ini gapapa di ambil?” lalu Kakek pun
menjawab dengan santai “Iya gapapa ambil aja, sesuatu yang di ambil itu pasti
akan datang lagi yang baru”. Sama seperti keadaan keluarga kami waktu itu,
Kakek di ibaratkan sebagai sebuah buah mangga yang telah di cabut dan anak yang
baru lahir dalam keluargaku bisa di ibaratkan sebagai mangga yang baru
tumbuh/sesuatu yang baru.
Kini…setelah aku besar, aku mulai
mengerti arti kehilangan seseorang. Aku selalu merenung dan kadang menyesal,
kenapa aku menyia-nyiakan Kakek di masa hidupnya? Di saat Kakek masih hidup aku
malah cuek kepadanya, sedangkan sekarang saat Kakek sudah tidak ada aku malah
menginginkan dia untuk kembali…tapi itu tidak mungkin. Penyesalan itu memang
selalu datang belakangan.
Dan mungkin dari cerita ini aku
bisa menyimpulkan dan mengambil hikmahnya. Kita harus lebih bisa memanfaatkan
orang yang ada di hidup kita, kita tidak boleh menyia-nyiakan orang itu,
siapa pun dia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar